Pemerintah China kembali menunjukkan sikap tanpa kompromi terhadap kejahatan lintas negara. Sebanyak 11 anggota keluarga Ming, sebuah klan kriminal yang dikenal luas sebagai pengendali pusat penipuan daring di wilayah Myanmar, dieksekusi mati setelah dinyatakan bersalah atas berbagai kejahatan berat. Eksekusi ini menutup bab terakhir perjalanan salah satu sindikat scam paling kejam yang pernah beroperasi di kawasan Asia Tenggara.
Vonis hukuman mati terhadap keluarga Ming sejatinya telah diputuskan pengadilan di Provinsi Zhejiang pada September 2025. Namun, pelaksanaan eksekusi baru dikonfirmasi ke publik pada awal Februari 2026. Penundaan ini berkaitan dengan proses administratif dan pengawasan ketat atas kasus yang dinilai memiliki dampak sosial dan internasional yang luas.
Keluarga Ming dikenal sebagai penguasa bayangan di Laukkaing, sebuah kota perbatasan yang selama bertahun-tahun berada di wilayah abu-abu penegakan hukum. Dari daerah yang awalnya miskin dan terpencil, Laukkaing berubah menjadi pusat kasino ilegal, prostitusi, dan pada akhirnya menjadi basis industri penipuan online berskala besar. Transformasi ini terjadi seiring melemahnya kontrol negara dan maraknya konflik bersenjata di kawasan tersebut.
Kepala keluarga, Ming Xuechang, disebut sebagai otak utama di balik operasi ini. Ia mengendalikan kompleks penipuan terkenal bernama “Crouching Tiger Villa”, yang berfungsi sebagai pusat komando scam daring. Pada fase awal, jaringan keluarga Ming hanya bergerak di bisnis perjudian dan hiburan malam. Namun, ketika tekanan meningkat terhadap kasino ilegal, mereka beralih ke penipuan digital yang dinilai lebih menguntungkan dan sulit dilacak.
Model bisnis penipuan yang dijalankan keluarga Ming bergantung pada tenaga kerja paksa. Banyak pekerja direkrut melalui penculikan, penipuan lowongan kerja, atau perdagangan manusia lintas negara. Mereka dipaksa menghubungi calon korban melalui media sosial dan aplikasi pesan, dengan target utama warga negara China. Gagal mencapai target berarti menerima hukuman fisik, mulai dari pemukulan hingga penyiksaan berat.
Skala kejahatan keluarga Ming tergolong luar biasa. Data pengadilan menunjukkan bahwa antara 2015 hingga 2023, jaringan perjudian dan penipuan mereka menghasilkan keuntungan lebih dari 10 miliar yuan, atau sekitar Rp 22 triliun. Aktivitas ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga menimbulkan korban jiwa. Setidaknya 14 warga negara China dilaporkan meninggal dunia akibat langsung dari praktik kekerasan yang dilakukan sindikat tersebut, sementara banyak korban lain mengalami luka fisik dan trauma berkepanjangan.
Di dalam kompleks “Crouching Tiger Villa”, kekerasan menjadi bagian dari sistem kerja. Para pekerja hidup dalam pengawasan ketat, dengan kebebasan yang nyaris tidak ada. Kesaksian korban menggambarkan kondisi kerja yang tidak manusiawi, termasuk penyiksaan rutin, ancaman pembunuhan, dan penahanan dalam ruang sempit selama berhari-hari. Fakta-fakta ini menjadi pertimbangan utama hakim dalam menjatuhkan hukuman paling berat kepada para terdakwa utama.
Runtuhnya kekuasaan keluarga Ming bermula pada 2023, ketika milisi etnis bersenjata mengambil alih Laukkaing dari kendali militer Myanmar. Dalam operasi tersebut, para anggota keluarga Ming ditangkap dan kemudian diserahkan kepada otoritas China. Pada periode yang sama, Ming Xuechang dilaporkan bunuh diri saat mencoba menghindari penangkapan, mengakhiri kepemimpinannya secara tragis.
Selain 11 orang yang dieksekusi mati, lebih dari 20 anggota keluarga Ming lainnya dijatuhi hukuman penjara dengan masa tahanan bervariasi, mulai dari lima tahun hingga hukuman seumur hidup. Putusan ini menegaskan bahwa aparat penegak hukum China tidak hanya membidik pemimpin puncak, tetapi juga seluruh jaringan pendukung yang terlibat langsung dalam kejahatan tersebut.
Kasus keluarga Ming bukan peristiwa tunggal. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah klan kriminal lain dengan pola kejahatan serupa juga dijatuhi hukuman berat. Hal ini menunjukkan strategi jangka panjang Beijing untuk memutus mata rantai penipuan daring yang telah lama meresahkan masyarakat dan merusak kepercayaan publik terhadap ekosistem digital.
Meski demikian, pemberantasan agresif ini belum sepenuhnya mengakhiri bisnis scam di Asia Tenggara. Sejumlah laporan menunjukkan adanya pergeseran operasi ke wilayah lain yang dianggap lebih aman dari tekanan hukum, seperti perbatasan Myanmar dengan Thailand, serta negara-negara seperti Kamboja dan Laos. Di wilayah-wilayah tersebut, jaringan kriminal masih berupaya beradaptasi dengan metode baru.
Eksekusi mati terhadap keluarga Ming menjadi simbol peringatan keras. Bagi Beijing, kejahatan penipuan lintas negara, terutama yang melibatkan perdagangan manusia dan kekerasan sistematis, dipandang sebagai ancaman serius terhadap stabilitas sosial. Hukuman maksimal dianggap sebagai pesan bahwa tidak ada ruang toleransi bagi pelaku, sekuat apa pun jaringan dan sebesar apa pun keuntungan yang mereka peroleh.
