Antrean panjang di supermarket, video review bertebaran di TikTok, hingga unggahan “wajib coba” di media sosial membuat ubi cream cheese mendadak jadi camilan paling diburu dalam beberapa pekan terakhir. Perpaduan ubi kukus lembut dengan lapisan cream cheese gurih memang sukses bikin banyak orang penasaran.
Tidak sedikit juga yang menganggap dessert ini lebih sehat dibanding jajanan manis lain. Alasannya sederhana. Bahan utamanya adalah ubi, bukan tepung atau roti. Di tengah tren hidup sehat dan diet modern, ubi sering dianggap sebagai sumber karbohidrat yang lebih baik daripada nasi putih atau makanan ultra proses.
Namun, apakah ubi cream cheese benar-benar aman untuk diet?
Pertanyaan itu mulai ramai dibahas setelah sejumlah dokter gizi mengingatkan bahwa label “lebih sehat” tidak selalu berarti rendah kalori. Apalagi jika makanan tersebut sudah dipadukan dengan topping tinggi gula dan lemak.
Secara alami, ubi memang memiliki nilai gizi yang cukup baik. Kandungan seratnya lebih tinggi dibanding nasi putih sehingga dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Ubi juga termasuk karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat oleh tubuh. Karena itu, banyak orang memilih ubi sebagai alternatif sumber energi harian.
Tetapi situasinya berubah ketika ubi diolah menjadi dessert kekinian.
Lapisan cream cheese yang tebal, tambahan susu kental manis, gula, hingga butter membuat total kalori dalam satu porsi bisa meningkat cukup drastis. Rasa manis dan gurih yang bikin nagih justru berasal dari kombinasi bahan tinggi lemak dan gula tersebut.
Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK menjelaskan bahwa ubi sebenarnya masih bisa menjadi pilihan camilan yang lebih baik jika porsinya dijaga. Dalam satu kali makan, porsi ubi yang dianggap wajar berada di kisaran 100 sampai 150 gram. Jumlah tersebut setara dengan porsi karbohidrat pengganti nasi.
Artinya, ubi cream cheese sebaiknya tidak dianggap sekadar snack ringan yang bisa dimakan terus-menerus tanpa kontrol. Jika porsinya berlebihan, asupan kalori harian juga bisa ikut melonjak tanpa disadari.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah penggunaan cream cheese. Meski rasanya lezat dan memberi sensasi creamy yang khas, cream cheese mengandung lemak jenuh cukup tinggi. Dalam jumlah kecil mungkin masih aman, tetapi penggunaan berlebihan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan tertentu, terutama pada orang dengan kondisi medis tertentu.
Dokter menyarankan penggunaan cream cheese cukup tipis saja, sekitar 20 hingga 30 gram per porsi. Masalahnya, di banyak produk viral yang dijual saat ini, topping justru menjadi daya tarik utama. Tidak sedikit penjual yang sengaja menambahkan lapisan cream cheese tebal agar tampil lebih menarik di kamera dan terlihat “melimpah”.
Padahal, semakin banyak topping yang digunakan, semakin tinggi pula kandungan kalorinya.
Fenomena makanan viral juga sering membuat orang lupa mengontrol frekuensi konsumsi. Karena sedang tren, banyak orang membeli ubi cream cheese berkali-kali dalam seminggu hanya demi mengikuti hype atau rasa penasaran. Di sinilah pola makan mulai berubah tanpa disadari.
Dessert yang awalnya dianggap “lebih sehat” akhirnya tetap memberi beban kalori berlebih jika dikonsumsi terlalu sering.
Dokter gizi mengingatkan bahwa ubi cream cheese idealnya hanya dikonsumsi sesekali saja, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali. Tujuannya agar tubuh tetap bisa menikmati makanan favorit tanpa menjadikannya kebiasaan harian.
Selain itu, ada beberapa kelompok yang perlu lebih berhati-hati saat mengonsumsi dessert ini. Pengidap diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit jantung disarankan membatasi penggunaan cream cheese maupun topping tambahan lain yang tinggi gula dan lemak.
Bagi penderita diabetes misalnya, tambahan susu kental manis dan gula bisa memicu lonjakan gula darah lebih cepat. Sementara kandungan lemak jenuh dari cream cheese dapat menjadi perhatian bagi penderita penyakit jantung atau hipertensi.
Meski begitu, ubi cream cheese bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya tetap ada pada keseimbangan dan kontrol porsi. Jika ingin menikmati dessert viral ini dengan lebih aman, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan.
Pertama, pilih porsi kecil dan hindari tambahan topping berlebihan. Kedua, kurangi saus manis atau susu kental manis tambahan. Ketiga, jangan menjadikan ubi cream cheese sebagai makanan penutup setiap hari. Dan yang tidak kalah penting, tetap perhatikan total asupan kalori harian.
Tren makanan viral memang selalu menarik perhatian. Apalagi jika dikemas dengan tampilan estetik dan disebut-sebut lebih sehat. Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa nilai gizi sebuah makanan tidak hanya ditentukan oleh bahan dasarnya saja, tetapi juga cara pengolahan dan topping yang digunakan.
Ubi mungkin sehat, tetapi ketika dipadukan dengan cream cheese tebal, gula tambahan, dan butter dalam jumlah besar, kandungan gizinya bisa berubah jauh dari ekspektasi awal.
Di media sosial, banyak makanan tampil menarik karena visual dan sensasi rasanya. Namun tubuh tetap menghitung kalori, gula, dan lemak yang masuk dengan cara yang sama.
Karena itu, menikmati makanan viral tetap boleh dilakukan. Asal tidak berlebihan dan tidak terjebak pada anggapan bahwa semua makanan berbahan dasar alami otomatis aman untuk diet.
Pada akhirnya, pola makan sehat bukan soal mengikuti tren makanan tertentu, melainkan bagaimana seseorang menjaga keseimbangan konsumsi setiap hari.



















