Kehidupan Amanda Manopo belakangan ini mengalami perubahan yang cukup terasa, terutama sejak dirinya memasuki masa kehamilan. Memasuki trimester ketiga, ia mulai benar-benar merasakan bagaimana tubuhnya beradaptasi dengan kondisi baru.
Dalam sebuah perbincangan santai bersama Sara Wijayanto, Amanda tidak ragu menceritakan apa yang ia alami. Ia bicara dengan nada jujur, tanpa dibuat-buat, seolah sedang berbagi cerita dengan teman sendiri.
Salah satu hal yang paling mencuri perhatian adalah kenaikan berat badannya yang cukup drastis. Ia menyebut angkanya mencapai 26 kilogram sejak awal kehamilan.
Bagi Amanda, perubahan itu bukan sekadar angka di timbangan. Ia mengaku butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa tubuhnya kini tidak lagi sama seperti dulu.
Rasa Tidak Percaya Diri yang Sempat Mengganggu
Di balik kebahagiaan menanti buah hati, Amanda juga menghadapi pergulatan batin yang tidak sederhana. Ia blak-blakan mengakui bahwa rasa tidak percaya diri sempat datang.
“Aku sempat ngerasa insecure,” kira-kira begitu pengakuannya saat berbincang. Perasaan itu muncul terutama saat ia melihat dirinya di cermin.
Perubahan bentuk tubuh yang cukup cepat membuatnya merasa asing dengan dirinya sendiri. Dulu ia terbiasa dengan tubuh yang lebih ramping, kini semuanya berubah dalam waktu relatif singkat.
Meski begitu, ia juga sadar bahwa kondisi ini bukan sesuatu yang aneh. Banyak perempuan hamil mengalami hal serupa, hanya saja tidak semua berani mengungkapkannya secara terbuka.
Adaptasi dari Hal Kecil hingga Besar
Perubahan fisik yang dialami Amanda ternyata berdampak ke hal-hal sederhana dalam kesehariannya. Salah satunya soal alas kaki.
Ia mengaku sekarang lebih sering memakai sandal jepit ke mana pun pergi. Bukan tanpa alasan, itu adalah pilihan paling nyaman untuk kondisi tubuhnya saat ini.
Selain itu, ukuran pakaian juga ikut berubah drastis. Dari yang sebelumnya memakai ukuran kecil, kini ia harus beralih ke ukuran yang jauh lebih besar.
Hal-hal seperti ini mungkin terdengar sepele, tapi bagi Amanda, itu adalah bagian dari proses penyesuaian yang cukup terasa. Ia harus benar-benar belajar menerima setiap perubahan yang terjadi.
Peran Dukungan dari Orang Terdekat
Di tengah rasa tidak nyaman yang sempat ia alami, Amanda tidak sendirian. Ia mendapat dukungan penuh dari suaminya, Kenny Austin.
Kehadiran pasangan menjadi salah satu faktor penting yang membuatnya bisa bertahan. Dukungan sederhana seperti mendengarkan atau memberi semangat ternyata sangat berarti.
Amanda merasa lebih kuat karena ada seseorang yang selalu ada di sampingnya. Hal itu membuatnya tidak larut terlalu lama dalam rasa insecure.
Perlahan, ia mulai belajar melihat kehamilan ini dari sisi yang berbeda. Bukan hanya soal perubahan fisik, tapi juga tentang perjalanan menuju peran baru sebagai seorang ibu.
Perubahan Emosi yang Ikut Terasa
Selain fisik, Amanda juga merasakan perubahan dari sisi emosional. Ia mengaku menjadi lebih sensitif dibanding sebelumnya.
Hal-hal kecil yang dulu mungkin tidak terlalu dipikirkan, kini bisa membuatnya tersentuh. Bahkan, ia mengatakan dirinya bisa menangis hanya karena hal sederhana.
Perubahan ini ia sadari sebagai efek dari hormon selama kehamilan. Meski terkadang terasa berlebihan, ia mencoba untuk tidak terlalu keras pada dirinya sendiri.
Justru dari situ, ia mulai lebih memahami kondisi tubuh dan perasaannya. Ia belajar menerima bahwa tidak semua hal harus dikendalikan dengan sempurna.
Belajar Menerima dan Menikmati Proses
Seiring berjalannya waktu, Amanda mulai menemukan cara untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi terlalu fokus pada perubahan fisik yang terjadi.
Sebaliknya, ia mencoba menikmati setiap fase kehamilan yang ia jalani. Meski tidak selalu mudah, ia percaya semua ini adalah bagian dari proses yang berharga.
Baginya, kehamilan bukan hanya tentang penampilan, tapi juga tentang pengalaman dan perjalanan hidup yang tidak akan terulang dengan cara yang sama.
Ia pun memilih untuk lebih santai dalam menghadapi semuanya. Tidak lagi terlalu memikirkan penilaian orang lain, melainkan fokus pada kesehatan diri dan calon buah hatinya.
Pada akhirnya, Amanda menunjukkan bahwa di balik cerita glamor seorang selebritas, ada sisi manusiawi yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang. Perubahan, rasa tidak percaya diri, hingga perjuangan menerima diri adalah hal yang nyata—dan ia menghadapinya dengan cara yang jujur.



















