Jakarta. Nama Tyto alba mendadak ramai diperbincangkan publik setelah seekor burung hantu jenis ini ditembak mati di Dusun Nela, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Peristiwa yang terjadi pada pertengahan Januari 2026 itu menyebar luas di media sosial dan memicu keprihatinan banyak pihak, mulai dari pemerhati satwa hingga aparat penegak hukum.
Kepolisian menyatakan bahwa terduga pelaku adalah warga setempat yang mengaku merasa terganggu dengan keberadaan burung hantu tersebut di sekitar rumahnya. Burung itu ditembak menggunakan senapan angin pada malam hari. Aksi tersebut direkam oleh saksi dan kemudian diunggah ke media sosial. Dari rekaman itulah, kasus ini mendapat perhatian luas. Saat ini, perkara tersebut diproses dengan mengacu pada ketentuan pidana terkait penganiayaan terhadap hewan yang mengakibatkan kematian, dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.
Di balik polemik hukum dan reaksi publik, peristiwa ini membuka kembali diskusi penting tentang Tyto alba. Burung hantu ini bukan satwa asing bagi masyarakat Indonesia. Namun, pengetahuan tentang peran ekologis dan karakter alaminya masih sering terabaikan.
Tyto alba dikenal luas dengan sejumlah nama lokal, seperti serak jawa, burung hantu lumbung, atau burung hantu gudang. Ciri paling menonjol terletak pada kepalanya yang besar dan membulat, tanpa jumbai telinga seperti pada jenis burung hantu lain. Wajahnya berbentuk menyerupai hati dengan warna putih pucat, memberi kesan kontras dengan bagian punggung yang berwarna cokelat muda dengan bercak hitam dan putih.
Secara fisik, betina Tyto alba umumnya berukuran lebih besar dibanding jantan. Bobot betina dapat mencapai sekitar 570 gram, sementara jantan rata-rata berada di kisaran 470 gram. Panjang tubuhnya berkisar antara 32 hingga 40 sentimeter, dengan rentang sayap mencapai lebih dari satu meter. Perbedaan ukuran ini menjadi salah satu ciri seksual dimorfisme yang cukup jelas pada spesies ini.
Burung hantu ini memiliki sebaran yang sangat luas. Hingga kini, para ahli mengenali lebih dari 30 subspesies Tyto alba di berbagai belahan dunia, yang dibedakan berdasarkan ukuran tubuh dan variasi warna bulu. Di Indonesia, Tyto alba kerap ditemukan di wilayah pedesaan, lahan pertanian, hingga area yang berdekatan dengan permukiman manusia.
Dalam perilakunya, Tyto alba cenderung hidup menyendiri atau berpasangan. Mereka aktif pada malam hari dan beristirahat di siang hari di tempat-tempat tersembunyi. Rongga pohon, celah tebing, bangunan tua, lumbung, hingga menara gereja sering menjadi lokasi bertengger favorit. Kedekatan habitatnya dengan lingkungan manusia inilah yang kerap memicu interaksi, baik yang bersifat positif maupun konflik.
Sebagai predator nokturnal, Tyto alba dikenal sangat efisien dalam berburu. Makanan utamanya adalah mamalia kecil, terutama tikus. Selain itu, mereka juga dapat memangsa burung kecil dan hewan pengerat lainnya. Aktivitas berburu biasanya dimulai sesaat setelah matahari terbenam. Dalam kondisi cahaya minim, burung hantu ini mengandalkan penglihatan malam yang tajam. Namun, dalam gelap total, indra pendengaran menjadi senjata utama.
Penelitian menunjukkan bahwa Tyto alba termasuk salah satu burung dengan kemampuan pelacakan mangsa berbasis suara paling akurat. Struktur wajahnya membantu memfokuskan gelombang suara ke telinga. Ditambah dengan bulu yang sangat halus, suara kepakan sayap mereka nyaris tak terdengar. Kombinasi ini memungkinkan Tyto alba mendekati mangsa tanpa terdeteksi.
Saat menyerang, burung hantu ini terbang rendah di atas tanah, biasanya pada ketinggian sekitar satu hingga empat meter. Mangsa ditangkap dengan kaki yang kuat, lalu dilumpuhkan dengan gigitan cepat di bagian belakang kepala sebelum akhirnya ditelan utuh.
Peran Tyto alba dalam ekosistem tidak bisa dipandang remeh. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menyebutkan bahwa seekor Tyto alba dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus dalam satu malam. Kemampuan ini menjadikannya predator alami yang efektif dalam mengendalikan populasi hama, khususnya di area pertanian terbuka.
Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa pemanfaatan Tyto alba sebagai pengendali hama harus dilakukan dengan perencanaan matang. Jika populasi burung hantu ini meningkat tanpa pengelolaan, sementara sumber makanan utama berkurang, mereka dapat beralih memangsa spesies lain. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem lokal.
Kasus penembakan Tyto alba di Belu menjadi pengingat bahwa pemahaman terhadap satwa liar masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Konflik antara manusia dan satwa sering berawal dari kurangnya informasi. Padahal, dalam banyak situasi, keberadaan satwa seperti Tyto alba justru memberi manfaat ekologis yang nyata.
Peristiwa ini tidak hanya soal penegakan hukum, tetapi juga soal literasi lingkungan. Tyto alba bukan sekadar burung hantu yang bersuara di malam hari. Ia adalah bagian dari sistem alam yang bekerja dalam senyap, menjaga keseimbangan dengan caranya sendiri.
