Peningkatan Anggaran Riset Nasional
Pada tanggal 15 Januari 2026, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan peningkatan anggaran riset nasional sebesar 50 persen, menjadikannya Rp12 triliun dari sebelumnya Rp8 triliun. Pengumuman ini disampaikan dalam sebuah diskusi yang dihadiri oleh 1.200 akademisi di Istana Kepresidenan. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pengembangan penelitian di perguruan tinggi dan sektor industri di Indonesia.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa dana tambahan sebesar Rp4 triliun akan difokuskan pada riset dalam bidang swasembada pangan dan energi, serta program hilirisasi. “Keputusan ini diambil demi memperkuat riset yang dilakukan oleh seluruh universitas, khususnya yang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” ungkap Prasetyo.
“Penguatan riset di perguruan tinggi adalah langkah krusial untuk meningkatkan daya saing Indonesia,” tambahnya. Dalam konteks ini, riset diharapkan dapat menjawab tantangan yang dihadapi oleh masyarakat, termasuk dalam aspek ketahanan pangan dan energi yang berkelanjutan.
Komitmen untuk Swasembada Pangan
Salah satu fokus utama dari pengembangan anggaran riset ini adalah swasembada pangan. Dalam konteks ini, Prabowo menekankan bahwa pangan adalah kebutuhan mendasar bagi setiap warga negara. “Kita perlu meningkatkan produksi dalam negeri agar dapat mengurangi ketergantungan pada pangan impor,” ujarnya.
Peningkatan anggaran ini diharapkan dapat memperkuat penelitian di sektor pertanian, termasuk pengembangan varietas baru yang lebih tahan terhadap hama dan perubahan iklim. “Dengan riset yang baik, kita bisa memastikan bahwa pangan yang diproduksi serta dipasarkan memiliki nilai gizi dan kualitas yang tinggi,” kata Prabowo.
Pembicaraan dalam diskusi itu juga menyentuh pada pentingnya inovasi dalam sektor pertanian. “Teknologi dan ilmu pengetahuan harus digunakan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, agar para petani bisa lebih sejahtera,” jelas seorang professor dari Universitas Pertanian.
Energi sebagai Pilar Penting
Selain fokus pada pangan, program swasembada energi juga mendapat perhatian besar dalam pengumuman ini. Dengan meningkatnya permintaan energi di Indonesia, pemerintah memahami bahwa keberlanjutan sektor energi sangat penting. “Kita harus bertransformasi menuju sumber-sumber energi terbarukan yang berkelanjutan,” tambah Prabowo, menekankan visi ke depan.
Prabowo juga menyoroti bahwa investasi dalam sumber energi seperti matahari, angin, dan biomassa harus menjadi prioritas. “Keberadaan sumber energi terbarukan ini tidak hanya untuk memuaskan kebutuhan kita saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang,” ungkapnya.
Kepala BRIN, Arif Satria, memberikan dukungan terhadap langkah ini. “Peningkatan anggaran ini memberikan kesempatan bagi kami untuk mendorong riset yang relevan dan inovatif dalam pengembangan energi terbarukan,” katanya. Arif menambahkan bahwa dukungan ini diharapkan dapat pula memperkuat ketahanan energi nasional.
Hilirisasi sebagai Langkah Strategis
Dalam pengumuman tersebut, program hilirisasi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat industri dalam negeri. Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa hilirisasi harus didukung oleh riset yang maju. “Hilirisasi bukan sekadar mengolah bahan mentah, tetapi menciptakan lebih banyak nilai tambah bagi produk lokal,” katanya.
Hal ini diharapkan bisa membuka peluang kerja dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. “Dengan dukungan penelitian yang kuat, kita bisa menciptakan industri yang efisien dan berkelanjutan,” tambah Prabowo.
Akademisi yang hadir dalam diskusi juga berharap agar langkah-langkah ini tidak sekadar menjadi sebuah rencana, tetapi bisa diimplementasikan dengan baik. “Kami mengharapkan adanya dukungan yang konkret untuk pelaksanaan program-program ini,” ujar salah satu peserta diskusi.
Pembentukan Ekosistem Riset yang Baik
Pentingnya membangun ekosistem riset yang kokoh juga menjadi sorotan dalam diskusi tersebut. Prabowo menekankan bahwa untuk mencapai tujuan ini, kolaborasi yang erat antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta sangat diperlukan. “Kami harus bersinergi untuk mewujudkan tujuan bersama dalam meningkatkan kualitas riset di Indonesia,” katanya.
Pemerintah ingin memastikan bahwa dana yang tersedia dapat digunakan dengan bijaksana untuk mencapai hasil yang maksimal. “Kami akan berusaha mengatur berbagai alokasi agar semua proyek yang ada bisa berjalan sesuai rencana,” sebut Prasetyo Hadi. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus mendukung pengembangan riset di berbagai bidang.
Dari diskusi ini, terlihat jelas rasa optimisme yang tinggi di kalangan akademisi dan peneliti. Mereka percaya bahwa jika semua pihak bekerja sama, Indonesia bisa mencapai kemandirian pangan dan energi, serta meningkatkan daya saing secara keseluruhan.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan pengumuman ini, banyak harapan baru muncul untuk masa depan riset di Indonesia. Para akademisi dan peneliti merasa bahwa ini adalah kesempatan emas untuk melakukan penelitian yang dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Kami siap untuk berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih baik,” ungkap salah satu dosen senior.
Kenaikan anggaran riset ini juga diharapkan dapat membawa dampak signifikan terhadap perekonomian. “Dengan bertumbuhnya sektor penelitian, kami percaya bahwa akan ada lebih banyak inovasi yang muncul,” pungkas Arif Satria. Semua pihak diharapkan dapat berkolaborasi untuk mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan dan mandiri di sektor pangan dan energi.



















