Penyelidikan dugaan korupsi proyek tol Medan-Binjai memasuki fase yang lebih intens. Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara mengambil langkah tegas dengan melakukan penggeledahan di dua kantor Badan Pertanahan Nasional di Medan.
Langkah ini dilakukan setelah penyidik menemukan indikasi awal adanya kejanggalan dalam proses pengadaan lahan. Penggeledahan pun dilakukan untuk mengumpulkan bukti tambahan.
Sejak pagi, tim penyidik sudah berada di lokasi. Mereka langsung menuju beberapa ruangan yang dianggap penting dalam proses administrasi lahan.
“Kami melihat mereka masuk ke beberapa ruangan, termasuk bagian pengadaan tanah,” kata seorang saksi yang berada di lokasi.
Dokumen Lama Ikut Dibuka, Penyidik Cari Jejak Awal
Menariknya, penyidik tidak hanya fokus pada dokumen terbaru. Arsip lama yang tersimpan bertahun-tahun juga ikut diperiksa. Hal ini menunjukkan bahwa penyidikan dilakukan secara menyeluruh.
Beberapa berkas bahkan harus dibersihkan dari debu sebelum diperiksa. Kondisi ini menggambarkan bahwa data lama pun bisa menjadi kunci dalam mengungkap kasus.
“Kadang justru data lama yang paling penting,” ujar seorang petugas sambil memeriksa dokumen.
Selain itu, penyidik juga memeriksa sistem komputer untuk melihat kemungkinan adanya data yang tersimpan secara digital.
Indikasi Penyimpangan Terus Didalami
Kasus ini tidak lepas dari dugaan adanya penyimpangan dalam proses pembebasan lahan. Salah satu yang menjadi fokus adalah ketidaksesuaian antara data dan fakta di lapangan.
Diduga ada pihak-pihak yang menerima ganti rugi meski tidak memiliki hak atas lahan tersebut. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi penyidik.
Selain itu, terdapat juga dugaan bahwa harga lahan sengaja dinaikkan untuk keuntungan pihak tertentu. Jika terbukti, hal ini bisa menimbulkan kerugian negara yang cukup besar.
“Semua masih dalam proses pendalaman, kami tidak ingin terburu-buru,” kata salah satu penyidik.
Banyak Pihak Bisa Terseret dalam Kasus Ini
Dengan skala proyek yang besar, tidak menutup kemungkinan bahwa kasus ini melibatkan banyak pihak. Mulai dari oknum pejabat hingga pihak swasta bisa saja ikut terlibat.
Kejati Sumut pun membuka peluang untuk memanggil saksi-saksi tambahan. Semua pihak yang dianggap mengetahui proses pengadaan lahan akan dimintai keterangan.
“Siapa pun yang terlibat akan kami panggil,” tegas seorang pejabat Kejati.
Hal ini membuat kasus ini semakin menarik perhatian publik. Banyak yang penasaran sejauh mana penyidikan akan berkembang.
Harapan Publik: Kasus Diusut Sampai Tuntas
Masyarakat berharap agar kasus ini tidak berhenti di tengah jalan. Mereka ingin melihat adanya kejelasan dan transparansi dalam proses hukum.
Penggeledahan yang dilakukan di kantor BPN dianggap sebagai langkah awal yang positif. Namun, publik tentu menunggu hasil nyata dari proses tersebut.
“Yang penting jangan cuma ramai di awal, tapi akhirnya tidak jelas,” ujar seorang warga.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa proyek besar harus diawasi dengan ketat. Tanpa pengawasan yang baik, potensi penyimpangan akan selalu ada.
Kini, Kejati Sumut memegang peran penting dalam mengungkap kebenaran. Semua pihak berharap proses ini berjalan lancar dan menghasilkan keadilan bagi semua.

















