Badan Pengawas Obat dan Makanan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan kembali mengingatkan masyarakat agar lebih berhati hati saat membeli takjil di bulan Ramadan. Peringatan ini muncul setelah dilakukan uji kelayakan di pasar takjil musiman Kota Kediri, Jawa Timur.
Dalam pemeriksaan terhadap 56 sampel makanan dan minuman menggunakan laboratorium keliling, petugas menemukan kerupuk yang terindikasi mengandung Rhodamin B. Zat tersebut merupakan pewarna sintetis untuk industri tekstil dan tidak diperbolehkan digunakan dalam pangan.
Rhodamin B bersifat toksik dan karsinogenik. Paparan dalam jangka panjang dapat memicu kerusakan hati dan ginjal. Selain itu, zat ini juga dapat menimbulkan iritasi pada kulit serta gangguan pada saluran pernapasan.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengimbau pelaku usaha, khususnya UMKM dan pedagang takjil, agar hanya menjual produk yang memenuhi standar keamanan. Ia menegaskan bahwa penggunaan pewarna tekstil maupun bahan tambahan yang tidak diperuntukkan bagi makanan dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
Ciri Ciri Takjil Berbahaya
BPOM mengingatkan masyarakat untuk mengenali tanda tanda makanan yang diduga mengandung formalin, boraks, atau pewarna tekstil seperti Rhodamin B dan Methanil Yellow.
Beberapa ciri yang perlu diwaspadai antara lain warna terlalu mencolok, terutama merah atau kuning terang yang tidak merata. Warna yang tampak sangat tajam dan tidak alami patut dicurigai.
Tekstur juga menjadi petunjuk penting. Produk seperti mi basah atau tahu yang terasa sangat kenyal dan tidak mudah hancur bisa saja mengandung boraks. Sebaliknya, makanan yang tidak lengket secara tidak wajar juga perlu diwaspadai.
Ciri lain adalah makanan tidak basi meski disimpan satu hingga dua hari pada suhu ruang. Pada kondisi normal, makanan segar memiliki daya tahan terbatas. Jika tetap tampak segar tanpa perubahan bau atau tekstur, konsumen perlu berhati hati.
Produk yang tidak dihinggapi lalat juga bisa menjadi tanda adanya bahan kimia tertentu, meski hal ini tidak selalu menjadi indikator pasti.
Bahaya Gula Berlebih Saat Berbuka
Selain ancaman bahan kimia berbahaya, takjil juga sering mengandung gula dalam jumlah tinggi. Saat berbuka, tubuh memang membutuhkan energi cepat. Namun, konsumsi gula berlebihan dapat memicu lonjakan gula darah secara drastis.
Beberapa menu takjil yang tinggi gula antara lain es sirup dengan tambahan gula cair, kolak pisang dengan santan dan gula merah pekat, cendol dengan kuah gula kental, martabak manis dengan susu kental manis dan cokelat, donat dengan topping gula, serta minuman kemasan manis siap minum.
Kurma yang dilapisi sirup glukosa juga perlu diperhatikan. Tambahan sirup dapat meningkatkan kadar gula secara signifikan dibandingkan kurma alami.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization merekomendasikan pembatasan gula tambahan tidak lebih dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Bahkan pembatasan hingga 5 persen dinilai lebih baik untuk mencegah obesitas dan diabetes tipe 2.
Konsumsi gula berlebihan dalam jangka panjang berisiko menyebabkan gangguan metabolik, peningkatan berat badan, kerusakan gigi, serta memperburuk kondisi pada penderita diabetes.
Tips Sehat dan Aman Berburu Takjil
Berburu takjil tetap dapat dilakukan dengan aman jika masyarakat menerapkan beberapa langkah sederhana.
Pertama, pilih pedagang yang menjaga kebersihan. Perhatikan apakah makanan ditutup dengan baik dan tidak terpapar debu atau asap kendaraan.
Kedua, amati warna, aroma, dan tekstur sebelum membeli. Hindari produk dengan warna terlalu mencolok atau bau menyengat yang tidak lazim.
Ketiga, batasi pembelian minuman manis. Jika memungkinkan, minta penjual mengurangi gula. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk mengembalikan cairan tubuh setelah berpuasa.
Keempat, utamakan makanan alami seperti buah potong segar, kurma tanpa tambahan sirup, kacang rebus, atau ubi kukus.
Kelima, beli secukupnya. Hindari membeli dalam jumlah besar yang berisiko tidak habis dan disimpan terlalu lama.
Keenam, perhatikan izin edar dan label jika membeli produk kemasan. Pastikan terdapat informasi jelas mengenai produsen dan tanggal kedaluwarsa.
Pola Berbuka yang Lebih Seimbang
Ahli gizi menyarankan agar berbuka dilakukan secara bertahap. Mulailah dengan air putih dan makanan manis alami dalam jumlah kecil, seperti satu atau dua butir kurma. Setelah itu, beri jeda sebelum mengonsumsi makanan utama.
Menu utama sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, sayur, dan lemak sehat. Hindari langsung mengonsumsi gorengan dalam jumlah banyak karena dapat memicu gangguan pencernaan dan meningkatkan asupan lemak jenuh.
Masyarakat juga dianjurkan tidak langsung tidur setelah makan besar. Beri waktu bagi tubuh untuk mencerna makanan dengan baik.
Keamanan pangan menjadi tanggung jawab bersama. Pedagang perlu mematuhi aturan, sementara konsumen harus lebih cermat dalam memilih. Dengan mengenali ciri takjil berbahaya serta mengontrol asupan gula, masyarakat dapat menjalani Ramadan dengan lebih sehat dan aman.



















