Di era media sosial dan notifikasi tanpa henti, banyak orang merasa sulit berhenti menggulir layar ponsel. Satu berita dibuka, lalu pindah ke berita lain yang lebih buruk. Video pendek berganti cepat. Timeline dipenuhi konflik, kecelakaan, perang, krisis ekonomi, hingga komentar negatif. Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling.
Istilah doomscrolling merujuk pada kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita atau konten negatif di internet, terutama melalui media sosial dan platform berita digital. Awalnya dilakukan untuk mencari informasi terbaru, namun perlahan berubah menjadi kebiasaan kompulsif yang sulit dihentikan.
Para peneliti dan psikolog kini mulai memberi perhatian serius terhadap dampak perilaku ini. Sejumlah studi menemukan hubungan kuat antara doomscrolling dengan meningkatnya kecemasan, stres, gangguan tidur, hingga penurunan kesejahteraan mental.
Menurut laporan American Psychological Association, paparan media negatif secara berlebihan dapat memicu “media saturation overload” atau kelelahan mental akibat banjir informasi. Psikolog melihat peningkatan stres yang berkaitan langsung dengan konsumsi berita digital tanpa batas.
Fenomena ini semakin besar sejak pandemi COVID-19. Saat itu, masyarakat menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar untuk memantau perkembangan kasus, kematian, hingga kebijakan pemerintah. Data yang dikutip Verywell Health menunjukkan konsumsi berita digital meningkat 35 persen, sementara penggunaan media sosial sebagai sumber berita naik 47 persen selama pandemi.
Mengapa Otak Sulit Berhenti?
Secara psikologis, manusia memang cenderung lebih tertarik pada informasi negatif. Otak menganggap ancaman sebagai sesuatu yang penting untuk dipantau demi bertahan hidup. Akibatnya, berita buruk terasa “lebih mendesak” dibanding kabar positif.
Media sosial memperparah kondisi tersebut melalui algoritma. Ketika seseorang sering membuka berita negatif, platform digital akan terus merekomendasikan konten serupa. Siklus ini membuat pengguna terjebak dalam arus informasi yang semakin gelap dan melelahkan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Computers in Human Behavior Reports bahkan menemukan bahwa doomscrolling berkaitan dengan kecemasan eksistensial, rasa putus asa, hingga menurunnya kepercayaan terhadap orang lain.
Di Indonesia, penelitian terhadap remaja juga menunjukkan hasil serupa. Studi mengenai perilaku doomscrolling pada remaja Indonesia menemukan hubungan signifikan antara frekuensi doomscrolling dengan meningkatnya kecemasan, gangguan tidur, dan menurunnya konsentrasi belajar.
Dampaknya Tidak Hanya Mental
Dampak doomscrolling bukan hanya soal suasana hati. Kebiasaan ini juga memengaruhi kondisi fisik tubuh.
Harvard Medical School menyebut doomscrolling dapat memicu sakit kepala, ketegangan otot, nyeri leher dan bahu, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, hingga peningkatan tekanan darah.
Saat seseorang terus membaca berita yang memicu stres, tubuh akan masuk ke mode waspada. Detak jantung meningkat, hormon stres naik, dan otak sulit rileks. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa berubah menjadi stres kronis.
Gangguan tidur menjadi salah satu efek paling umum. Banyak orang melakukan doomscrolling sebelum tidur dengan alasan ingin “cek sebentar”. Namun satu video atau berita sering berujung pada satu jam tambahan di depan layar.
Survei dari American Academy of Sleep Medicine pada 2025 menemukan 38 persen responden mengaku doomscrolling memperburuk kualitas tidur mereka. Angka tertinggi terjadi pada kelompok usia 18 hingga 24 tahun.
Paparan cahaya biru dari layar ponsel juga mengganggu ritme alami tubuh. Otak menjadi lebih waspada pada malam hari sehingga seseorang sulit tidur nyenyak. Kurang tidur dalam jangka panjang diketahui berkaitan dengan risiko hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan penurunan fokus.
Efek Lingkaran Negatif
Masalah terbesar dari doomscrolling adalah efek lingkarannya. Orang yang sedang cemas cenderung mencari lebih banyak informasi negatif. Namun semakin banyak informasi negatif dikonsumsi, tingkat kecemasan juga makin meningkat.
Penelitian dari University College London menunjukkan suasana hati seseorang memburuk setelah melihat konten negatif di internet. Menariknya, saat mood sedang buruk, orang justru terdorong mencari lebih banyak konten negatif.
Kondisi ini membuat banyak orang merasa lelah secara emosional tanpa sadar. Mereka sulit fokus, cepat marah, kehilangan motivasi, bahkan merasa dunia selalu berada dalam kondisi buruk.
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai information fatigue, yaitu kelelahan mental akibat paparan informasi berlebihan yang tidak pernah berhenti.
Apakah Harus Berhenti Total dari Media Sosial?
Para ahli tidak menyarankan masyarakat berhenti total dari internet atau media sosial. Informasi tetap penting. Namun yang dibutuhkan adalah batasan sehat dalam mengonsumsi konten digital.
Mental Health Foundation menyarankan pengguna menetapkan waktu khusus untuk membaca berita, mematikan notifikasi yang tidak penting, dan menghindari scrolling sebelum tidur.
Beberapa psikolog juga menyarankan metode sederhana seperti:
- Membatasi waktu media sosial harian
- Mengikuti akun yang lebih positif dan edukatif
- Tidak langsung membuka ponsel setelah bangun tidur
- Mengganti waktu scrolling dengan aktivitas fisik ringan
- Memberi jeda digital beberapa jam dalam sehari
Langkah kecil tersebut dinilai efektif membantu otak keluar dari pola konsumsi negatif yang terus berulang.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan mengatur konsumsi konten kini menjadi bagian penting dari menjaga kesehatan mental. Sebab tidak semua informasi harus dikonsumsi setiap saat, apalagi jika akhirnya justru membuat pikiran terus dipenuhi rasa cemas dan lelah.



















