Musisi Anji Manji membagikan kisah yang membuat banyak orang ikut tersentuh setelah kepergian ibundanya, Siti Sundari. Di tengah suasana duka yang masih terasa, Anji mengungkap ada kebiasaan keluarga yang selama ini selalu menjadi momen spesial bagi mereka.
Ternyata Anji, sang ibu, dan putranya Saga Omar Nagata memiliki tanggal lahir yang sama. Kesamaan itu membuat keluarga mereka rutin merayakan ulang tahun bersama setiap tahunnya. Tradisi tersebut sudah berlangsung lama dan selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu.
Anji mengatakan perayaan itu biasanya berlangsung sederhana namun penuh kehangatan. Tidak selalu mewah, kadang hanya makan bersama di rumah sambil berbincang santai hingga malam. Namun justru suasana itulah yang sekarang paling dirindukan.
Setelah sang ibu meninggal dunia, cerita tentang tanggal lahir yang sama tersebut berubah menjadi kenangan emosional. Anji menyebutnya bukan lagi sekadar kebetulan, melainkan ikatan batin yang akan selalu ia ingat sepanjang hidup.
Sosok Siti Sundari di Mata Keluarga
Bagi Anji, ibundanya bukan hanya orang tua, tetapi juga tempat pulang di tengah kesibukan dunia hiburan. Selama bertahun-tahun berkarier, ia merasa belum punya cukup banyak waktu bersama sang ibu.
Karena itu, sejak akhir 2025 lalu Anji berusaha lebih dekat dengan ibundanya. Ia bahkan menyiapkan tempat tinggal yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya sendiri agar lebih mudah bertemu setiap hari.
Kedekatan itu membuat hubungan mereka terasa semakin hangat. Anji sering menemani ibunya jalan pagi, duduk santai sambil mengobrol, hingga sekadar menikmati waktu sore bersama keluarga.
Menurutnya, momen-momen sederhana tersebut justru memberi kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Ia merasa bisa mengenal ibunya lebih dekat setelah sekian lama sibuk dengan pekerjaan dan jadwal manggung yang padat.
Saga Jadi Pengikat Kebahagiaan Keluarga
Wina Natalia turut mengenang bagaimana bahagianya Siti Sundari saat Saga lahir ke dunia. Kehadiran cucu laki-lakinya itu dianggap membawa kebahagiaan besar bagi keluarga karena lahir di tanggal yang sama dengan Anji dan sang nenek.
Sejak kecil, Saga memang disebut memiliki hubungan dekat dengan neneknya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama saat keluarga berkumpul. Siti Sundari juga dikenal sangat perhatian kepada cucu-cucunya.
Saat ulang tahun tiba, suasana rumah selalu terasa ramai. Tiga generasi dengan tanggal lahir sama menjadi alasan keluarga besar berkumpul dan merayakan kebersamaan.
Kini setelah Siti Sundari tiada, tradisi tersebut tentu akan terasa berbeda. Namun bagi keluarga Anji, kenangan itu akan tetap hidup dan menjadi cerita yang terus dikenang.
Momen Terakhir yang Sulit Dilupakan
Siti Sundari meninggal dunia pada 26 Maret 2026. Anji mengaku masih mengingat jelas detik-detik terakhir bersama sang ibu. Awalnya keluarga tidak merasa ada sesuatu yang aneh karena almarhumah terlihat hanya tertidur.
Namun suasana berubah ketika sang ibu tidak juga bangun meski sudah dipanggil berkali-kali. Anji langsung mendatangi rumah ibunya dan mencoba membangunkan perempuan yang paling ia sayangi itu.
Dengan penuh harapan, ia terus memanggil sang ibu sambil menggenggam tubuhnya. Momen tersebut menjadi pengalaman emosional yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Anji bersyukur masih sempat berada di sisi ibundanya pada saat terakhir. Ia merasa setidaknya bisa menemani sang ibu hingga napas terakhir, sesuatu yang menurutnya sangat berarti sebagai seorang anak.
Kehilangan yang Mengubah Cara Pandang Anji
Kepergian ibunda membuat Anji mulai memikirkan ulang banyak hal dalam hidupnya. Ia sadar selama ini terlalu fokus bekerja hingga sering kehilangan waktu bersama keluarga.
Karena itu, Anji memutuskan untuk mengurangi jadwal manggungnya. Ia ingin lebih banyak hadir untuk anak-anaknya dan menikmati waktu bersama keluarga selagi masih ada kesempatan.
Menurut Anji, kebersamaan tidak bisa diganti dengan materi. Pengalaman merawat sang ibu selama beberapa bulan terakhir justru menjadi salah satu fase paling berharga dalam hidupnya.
Kini ia ingin menjalani hidup dengan ritme yang lebih tenang. Bukan lagi soal seberapa sibuk atau seberapa banyak pekerjaan, melainkan tentang siapa saja yang masih bisa dipeluk dan diajak menghabiskan waktu bersama.



















