Pemerintah resmi membatalkan rencana penerapan sekolah daring pada April 2026. Kebijakan yang sebelumnya dikaitkan dengan upaya efisiensi energi itu akhirnya tidak dilanjutkan setelah melalui koordinasi lintas kementerian. Fokus utama pemerintah kini kembali pada pembelajaran tatap muka guna mencegah risiko penurunan kualitas pendidikan atau learning loss.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa proses belajar harus berjalan optimal. Pemerintah menilai pembelajaran daring belum menjadi kebutuhan mendesak saat ini. Keputusan tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan nasional.
Namun, di balik keputusan ini, terdapat perdebatan yang lebih luas. Wacana sekolah daring sebelumnya tidak muncul tanpa alasan. Pemerintah tengah mencari cara menekan konsumsi energi nasional, termasuk dari sektor pendidikan yang berkontribusi melalui mobilitas harian jutaan siswa dan tenaga pengajar.
Pertanyaannya, apakah efisiensi energi layak mengorbankan kualitas pendidikan? Atau justru sistem daring bisa menjadi solusi jangka panjang jika dikelola dengan baik?
Dampak Nyata Sekolah Daring pada Anak
Pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi rujukan utama dalam menilai efektivitas pembelajaran daring. Berbagai studi internasional dan laporan lembaga pendidikan menunjukkan dampak yang tidak bisa diabaikan.
Salah satu yang paling sering disebut adalah learning loss. Bank Dunia dan UNESCO sebelumnya mencatat bahwa siswa di banyak negara mengalami penurunan kemampuan literasi dan numerasi setelah periode panjang belajar dari rumah. Di Indonesia, sejumlah asesmen juga menunjukkan penurunan capaian belajar, terutama di daerah dengan akses internet terbatas.
Selain aspek akademik, dampak lain yang muncul adalah:
1. Penurunan kemampuan sosial
Interaksi langsung di kelas tidak tergantikan oleh layar. Anak kehilangan kesempatan belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami emosi orang lain secara nyata.
2. Kelelahan digital (digital fatigue)
Belajar melalui layar dalam waktu lama memicu kelelahan mental. Anak cenderung sulit fokus dan mudah terdistraksi.
3. Ketimpangan akses
Tidak semua siswa memiliki perangkat memadai atau koneksi internet stabil. Ini memperlebar kesenjangan pendidikan antar wilayah dan kelompok ekonomi.
4. Peran orang tua yang tidak merata
Pembelajaran daring sering kali memindahkan sebagian tanggung jawab guru ke orang tua. Tidak semua keluarga memiliki waktu atau kemampuan untuk mendampingi anak belajar secara optimal.
Dari sudut pandang jurnalistik yang telah lama mengamati dinamika pendidikan, dampak ini bukan sekadar data, tetapi realitas yang terlihat langsung di lapangan. Banyak siswa tertinggal bukan karena tidak mampu, tetapi karena sistem tidak sepenuhnya siap.
Efisiensi Energi vs Efisiensi Pendidikan
Wacana sekolah daring pada April 2026 muncul dari kebutuhan efisiensi energi. Pengurangan mobilitas dianggap dapat menekan konsumsi bahan bakar dan beban operasional.
Secara logika, pendekatan ini masuk akal. Sektor pendidikan memang melibatkan jutaan perjalanan setiap hari. Namun, efisiensi energi tidak bisa dilihat secara sempit.
Efisiensi sejati bukan hanya soal penghematan sumber daya, tetapi juga hasil yang dicapai. Jika pembelajaran menjadi tidak optimal, maka biaya jangka panjang justru lebih besar. Kualitas sumber daya manusia yang menurun akan berdampak pada produktivitas nasional di masa depan.
Dalam praktiknya, efisiensi pendidikan memiliki indikator yang berbeda. Bukan hanya hemat biaya, tetapi juga:
- Tingkat pemahaman siswa
- Keterlibatan dalam proses belajar
- Kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja
- Keseimbangan perkembangan akademik dan sosial
Jika pembelajaran daring tidak mampu memenuhi indikator tersebut secara merata, maka kebijakan tersebut sulit disebut efisien.
Apakah Daring Harus Ditinggalkan?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Pembelajaran daring bukanlah sistem yang sepenuhnya gagal. Dalam kondisi tertentu, metode ini justru menjadi solusi. Misalnya saat bencana, kondisi darurat, atau untuk memperluas akses pendidikan di wilayah terpencil.
Namun, penerapannya tidak bisa disamakan dengan pembelajaran tatap muka penuh.
Model yang lebih realistis adalah pendekatan hybrid yang benar-benar terencana. Bukan sekadar membagi hari sekolah, tetapi mengintegrasikan keunggulan masing-masing metode.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan jika daring ingin tetap digunakan:
- Infrastruktur digital yang merata
- Pelatihan guru dalam metode pembelajaran digital
- Kurikulum yang disesuaikan, bukan sekadar dipindahkan ke online
- Sistem evaluasi yang relevan
Tanpa itu, pembelajaran daring hanya akan menjadi solusi sementara yang berisiko menimbulkan masalah jangka panjang.
Catatan Seorang Jurnalis: Pendidikan Tidak Bisa Dipercepat Secara Instan
Dalam pengalaman panjang meliput kebijakan publik, ada satu pola yang sering berulang. Kebijakan yang baik di atas kertas belum tentu berhasil di lapangan jika tidak memperhitungkan realitas sosial.
Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu. Ia adalah ruang pembentukan karakter, disiplin, dan interaksi manusia. Menggantinya dengan layar, tanpa kesiapan menyeluruh, berarti mengubah fondasi pendidikan itu sendiri.
Keputusan pemerintah membatalkan sekolah daring pada April 2026 menunjukkan kehati-hatian yang patut dicatat. Ini bukan sekadar soal menolak perubahan, tetapi memilih prioritas yang paling mendasar: kualitas belajar anak.
Efisiensi tetap penting. Namun, dalam konteks pendidikan, efisiensi tidak boleh mengorbankan generasi.
Jika ada satu pelajaran dari perdebatan ini, maka jawabannya jelas. Transformasi pendidikan harus berjalan, tetapi tidak boleh tergesa. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya sistem, melainkan masa depan.



















