Minggu pagi di banyak rumah Indonesia kini terasa berbeda. Televisi tetap menyala, tetapi tidak lagi menampilkan robot kucing biru yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari rutinitas keluarga. Sejak awal 2026, Doraemon tidak lagi muncul dalam jadwal tayang televisi nasional. Tanpa pengumuman resmi, kepergian ini justru terasa lebih sunyi dan emosional bagi para penontonnya.
Doraemon bukan tayangan biasa. Selama lebih dari 35 tahun, serial ini hadir secara konsisten menemani pemirsa dari berbagai generasi. Sejak mulai dikenal luas pada awal 1990-an, Doraemon menjadi pengisi tetap Minggu pagi. Waktu tayangnya bahkan dianggap sakral oleh banyak keluarga. Anak-anak rela bangun lebih awal, orang tua membiarkan televisi menyala lebih lama, dan aktivitas lain sering menunggu hingga episode selesai.
Dalam perjalanan panjangnya, Doraemon tumbuh bersama perubahan zaman. Format tayangan berganti, pengisi suara berubah, teknologi televisi berkembang, tetapi ceritanya tetap sama. Nobita yang ceroboh, Shizuka yang sabar, Giant yang keras, dan Suneo yang licik selalu hadir dalam pola yang akrab. Justru dari pengulangan inilah muncul rasa dekat yang sulit digantikan.
Berhentinya Doraemon dari layar televisi nasional disadari perlahan oleh para penggemar. Jadwal tayang yang biasanya rutin mendadak menghilang sejak akhir Desember 2025. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak stasiun televisi maupun pemegang lisensi mengenai alasan penghentian tersebut. Namun, dampaknya langsung terasa di ruang publik digital.
Reaksi Publik: Teman Masa Kecil yang Ditinggalkan
Media sosial menjadi tempat pertama di mana perasaan itu diluapkan. Di berbagai platform, warganet menuliskan pengalaman pribadi mereka bersama Doraemon. Banyak yang mengaku kaget sekaligus sedih mengetahui tayangan tersebut tak lagi hadir di televisi.
Sejumlah unggahan mengenang kebiasaan menonton Doraemon setiap akhir pekan. Ada yang menceritakan rutinitas Minggu pagi dari kecil hingga dewasa. Ada pula yang menyebut Doraemon sebagai satu-satunya tontonan yang konsisten menemani mereka dari masa sekolah hingga bekerja. Bagi sebagian orang, kabar ini terasa seperti penanda berakhirnya satu fase kehidupan.
Beberapa warganet menuliskan bahwa Doraemon bukan hanya hiburan, tetapi juga bagian dari kenangan keluarga. Menonton bersama orang tua, duduk di depan televisi tabung, hingga menikmati sarapan sederhana menjadi memori yang kembali muncul. Unggahan lain menyoroti bagaimana Doraemon mengajarkan nilai sederhana tentang usaha, tanggung jawab, dan akibat dari jalan pintas.
Reaksi emosional tersebut muncul hampir bersamaan. Banyak yang menyebut bahwa berhentinya Doraemon di televisi terasa lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan tayangan lain. Alasannya sederhana. Doraemon hadir terlalu lama untuk sekadar dilupakan.
Dari Televisi ke Layanan Streaming
Meski tak lagi tayang di televisi nasional, Doraemon sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Serial ini masih dapat diakses melalui berbagai layanan streaming. Namun, pengalaman menontonnya tidak lagi sama. Jika dahulu semua orang menonton di waktu yang sama, kini Doraemon menjadi tontonan personal yang bisa diakses kapan saja.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran kebiasaan menonton masyarakat. Televisi tidak lagi menjadi satu-satunya pusat hiburan keluarga. Ponsel dan tablet mengambil alih peran tersebut. Anak-anak hari ini mengenal Doraemon bukan sebagai acara Minggu pagi, melainkan sebagai judul dalam katalog digital.
Bagi generasi yang tumbuh bersama Doraemon di televisi, pergeseran ini menghadirkan rasa kehilangan yang sulit dijelaskan. Bukan karena Doraemonnya menghilang, tetapi karena suasana yang menyertainya tidak bisa diulang.
Kenangan yang Tetap Tinggal
Hilangnya Doraemon dari televisi nasional menandai berakhirnya sebuah tradisi, bukan berakhirnya cerita. Doraemon tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Dalam komik lama yang masih dibaca ulang, dalam lagu pembuka yang mudah dikenali, dan dalam cerita masa kecil yang diceritakan kembali.
Teknologi terus berubah dan cara menonton ikut bergeser. Namun bagi jutaan orang, Doraemon akan selalu identik dengan Minggu pagi, layar kaca, dan masa kecil yang sederhana. Sebuah kenangan yang mungkin tak lagi hadir di televisi, tetapi tetap tinggal dalam ingatan.



















